MAKALAH
JENIS INFORMASI AKUNTANSI MANAJEMEN
Diajukan Sebagai Tugas Mandiri
Mata Kuliah : Akuntansi Manajemen
Dosen Pengampu :.Ridwan Widagdo SE. MSi
Disusun Oleh:
Fatiah Nuur Khootimah ( 58320234 )
M-EPI 3 / VI / SYARIAH
KEMENTRIAN AGAMA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI CIREBON
2011
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr. wb
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Di mana tugas ini merupakan tugas individu bagi mahasiswa IAIN Syekh Nurjati dalam mata kuliah Akuntansi Manajemen.
Penulis dalam hal ini mengucapkan terima kasih atas segala bantuan dari berbagai pihak termasuk penulis buku yang menjadi referensi dari penulisan makalah ini. Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah Akuntansi Manajemen ini yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengemban tanggungjawab dalam membahas materi ini. Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaa, sehungga kritik dan saran yang sifatnya membangun dapat lebih menyempurnakan isi makalah ini. Semoga makalah ini berisi ilmu yang bermanfaat yang dapat dipergunakan untuk pengembangan ilmu pengetahuan ke depannya.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
PENYUSUN
PENDAHULUAN
Dalam melaksanakan kegiatan perusahaan, perusahaan selalu menghadapi berbagai masalah. Diantaranya adalah bagaimana agar perusahaan dapat beroperasi seefisien mungkin, sehingga dapat terpercaya keuntungan yang maksimal. Untuk menghadapi masalah tersebut, diperlukan suatu sistem pelaporan intern yang memadai, sehingga kalau terjadi penyelewengan ataupun pemborosan dalam proses produksi dapat segera diatasi. Dalam sistem pelaporan intern ini diperlukan akuntansi manajemen.
Akuntansi manajemen merupakan jaringan penghubung yang sistematis dalam penyajian informasi yang berguna dan dapat daya untuk membantu pemimpin perusahaan dalam usaha mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.
Informasi akuntansi manajemen ini terdiri dari informasi akuntansi biaya penuh (full cost accounting), informasi akuntansi diferensial (differential accounting), dan akuntansi pertanggungjawaban (responbility accounting). Jika informasi akuntansi dihubungkan dengan alternatif yang akan dipilih, maka akan dihasilkan konsep informasi akuntansi diferensial yang sangat dibutuhkan oleh manajemen untuk tujuan pengambilan keputusan pemilihan beberapa alternatif. Jika informasi dibutuhkan dengan wewenang yang dimiliki oleh manajer, maka akan dihasilkan konsep informasi akuntansi pertanggungjawaban yang terutama bermanfaat untuk mempengaruhi perilaku manusia dalam organisasi.
Pengambilan keputusan tentang pemilihan beberapa alternatif pada akuntansi diferensial dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: keputusan jangka panjang dan keputusan jangka pendek. Keputusan jangka panjang merupakan keputusan yang diambil manajer, dimana hasil dari keputusan tersebut dapat menberikan manfaat yang lebih dari satu tahun. Alternatif yang perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan jangka panjang antara lain, yaitu: membeli atau menyewa mesin, membeli mesin secara tunai atau angsuran, dan lain-lain. Keputusan jangka pendek merupakan keputusan yang diambil manajer, dimana hasil dari keputusan tersebut dapat langsung dirasakan pada tahun dimana keputusan tersebut diambil. Alternatif yang harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan jangka pendek antara lain, yaitu: apakah pesanan dibawah harga pokok diterima atau ditolak, menjual sekarang atau memproses lebih lanjut produk tertentu.
PEMBAHASAN I
JENIS INFORMASI AKUNTANSI MANAJEMEN
Informasi yang digunakan manajemen sebagai dasar pengambilan keputusan adalah informasi akuntansi manajemen dan merupakan informasi yang utama yang dimiliki perusahaan. Informasi akuntansi manajemen terutama digunakan oleh pimpinan perusahaan di dalam menunjang pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen khususnya fungsi perencanaan dan pengawasan.
Jenis-jenis akuntansi menurut Mas’ud Machfoedz adalah sebagai berikut:
1. Akuntansi biaya penuh (full cost accounting)
2. Akuntansi biaya diferensial (differential accounting)
3. Akuntansi pertanggungjawaban (responsbility accounting)
Infomasi akuntansi manajemen dapat dihubungkan dengan tiga hal objek informasi, alternatif yang akan dipilih dan wewenang manajer. Informasi akuntansi manajemen dihubungkan dengan objek informasi, seperti produk, departemen, dan aktivitas perusahaan maka akan dihasilkan konsep informasi akuntansi penuh. Jika informasi akuntansi manajemen dihubungkan dengan alternatif yang akan dipilih, maka akan dihasilkan konsep informasi akuntansi diferensial, yang sangat diperluakan oleh manajemen dalam pengambilan keputusan pemilihan alternatif. Jika informasi akuntansi manajemen dihubungkan dengan wewenang yang dimiliki oleh manajer, maka akan dihasilkan konsep informasi akuntansi pertanggungjawaban, yang terutama manfaat untuk mempengaruhi perilaku manusia dalam organisasi.
Menurut Mulyadi jenis/tipe dan manfaat dari organisasi akuntansi manajemen adalah sebagai berikut:
Tipe Infomasi Akuntansi Manajemen | Manfaat | |
Informasi masa lalu | Informasi yang akan datang | |
Informasi akuntansi penuh | · Pelaporan informasi keuangan · Analisis kemampuan menghasilakan laba · Jawaban atas pertanyaan ”Berapa biaya yang telah dikeluarkan untuk sesuatu?” · Penentuan harga jual dalam cost-type contracy | · Penyusunan Program · Penentuan harga jual normal · Penentuan harga transfer · Penentuan harga jual yang diatur dengan peraturan pemerintah |
Informasi akuntansi diferensial | Tidak ada | Pengambilan keputusan pemilihan alternatif, baik jangka pendek maupun jangka panjang |
Informasi akuntansi pertanggungjawaban | · Penilaian kinerja manajer · Pemotivasian manajer | Penyusunan anggaran |
1. Akuntansi Biaya Penuh
Akuntansi biaya penuh merupakan keseluruhan biaya yang dibebankan pada setiap produk, segmen dan divisi baik itu biaya langsung maupun biaya tidak langsung. Pengertian biaya langsung adalah keseluruhan biaya yang dapat ditelusuri manfaatnya pada produk yang bersangkutan, sedangkan biaya tidak langsung merupakan biaya gabungan untuk memproduksi beberapa macam produk.
Akuntansi biaya penuh dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu biaya penuh historis dan biaya penuh yang akan datang. Biaya penuh historis terutama digunakan untuk menyajikan laporan keuangan perusahaan baik itu neraca maupun perubahan posisi keuangan. Di samping itu, biaya penuh juga digunakan untuk menilai prestasi manajer yang memimpin perusahaan, sedangkan biaya penuh masa yang akan datang terutama digunakan untuk semua tipe perencanaan baik itu perencanaan jangka panjang maupun perencanaan jangka pendek atau sering juga disebut pembuatan program yaitu keputusan tentang langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan perusahaan. Biaya penuh masa yang akan datang juga digunakan untuk menetapkan berapa harga penjualan normal yang dikehendaki perusahaan supaya perusahaan tidak mengalami kerugian. Sebagai contoh, PT. SENTOSA membeli komponen kipas angin sebesar Rp. 15.000,- dan untuk merakit kipas angin tersebut diperlukan biaya-biaya sebagai berikut: upah tenaga kerja Rp.2.000,- biaya material (suku cadang) sebesar Rp. 3.000,- serta biaya operasi sebesar Rp. 5.000,- (termasuk biaya tetap), maka biaya penuh dari kipas angin tersebut adalah Rp. 25.000,-.
2. Akuntansi Biaya Diferensial
Akuntansi biaya diferensial hanya digunakan untuk memilih salah satu alternatif dari alternatif yang ada untuk dijadikan menjadi keputusan perusahaan pada masa yang akan datang. Jadi informasi yang digunakan dalam akuntansi diferensial adalah informasi masa mendatang, dan informasi tersebut merupakan informasi mengenai perbedaan diantara alternatif yang dihadapi para pembuat keputusan. Jadi tidak ada informasi akuntansi diferensial yang bersifat historis.
Akuntansi diferensial dapat dibedakan menjadi empat yaitu biaya diferensial, pendapatan diferensial, laba diferensial, dan aktiva diferensial. Dari keempat akuntansi diferensial tersebut merupakan informasi masa yang akan datang yang berbeda pada suatu kondisi dibandingkan dengan kondisi lain. Penentuan besarnya biaya, pendapatan, laba, dan aktiva diferensial hanya didasarkan pada prediksi masa yang akan datang. Sebagai contoh, PT. SENTOSA membeli komponen kipas angin dengan harga Rp. 15.000,- dan untuk merakit kipas angin tersebut dibutuhkan biaya suku cadang sebesar Rp. 5.000,- dan upah tenaga kerja Rp. 3.000,-. Apabila dirakit oleh perusahaan lain, maka biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 10.000,-. Dari informasi tersebut dapat dibuat analisa tentang pemilihan merakit sendiri atau dirakit oleh perusahaan lain, yaitu sebagai berikut:
Dirakit perusahaan sendiri | Dirakit perusahaan lain | |
Komponen kipas angin Suku cadang | Rp. 15.000,- Rp. 5.000,- | Rp. 15.000,- - |
Upah tenaga kerja Dirakit perusahaan lain | Rp. 3.000,- - | - Rp. 10.000,- |
Total Penghematan biaya | Rp. 23.000,- Rp. 2.000,- | Rp. 25.000,- - |
Rp. 25.000,- | Rp. 25.000,- |
3. Akuntansi Pertanggungjawaban
Informasi akuntansi pertanggungjawab merupakan cara yang ditempuh oleh Top Manajemen untuk membagi organisasi menjadi segmen-segmen tertentu, dimana masing-masing segmen mempunyai otonomi untuk mengatur pusat pertanggungjawaban, dengan cara demikian diharapkan pencapaian tujuan organisasi secara keseluruhan akan cepat tercapai. Pada umumnya pembentukan pusat pertanggungjawaban erat kaitannya dengan adanya tujuan/sasaran tertentu yang ingin dicapai organisasi. Pusat pertanggungjawaban yang ada suatu organisasi pada umumnya dikelompokkan menjadi empat, yaitu pusat pendapatan, pusat laba, pusat biaya, pusat investasi.
Pusat pendapatan merupakan suatu pusat pertanggungjawaban, dimana tingkat output atau keluaran diukur dengan nilai uang akan tetapi tidak ada usaha formal yang dilakukan untuk menghubungkannya dengan biaya atau input. Pusat pendapatan pada umumnya dipercayakan kepada bagian pemasaran. Dalam pusat pendapatan, pertama yang dilakukan adalah menentukan target penjualan untuk mengukur transaksi penjualan yang telah dilakukan. Jadi dengan ditentukan target penjualan ada semacam aspek pengawasan dalam pusat pertanggungjawaban.
Contoh:
Laporan Prestasi Dari Departemen Pemasaran Untuk Bulan April 19XX | |||
Budget | Realisasi | Varians | |
Penjualan Biaya Penjualan: § Gaji, Bonus, dan Lembur § Transportasi § Biaya iklan § Biaya lain-lain | Rp. 30.000,- Rp. 1.000,- Rp. 200,- Rp. 500,- Rp. 100,- | Rp. 48.000,- Rp. 1.850,- Rp . 270,- Rp. 550,- Rp. 120,- | Rp. 18.000,- (Rp. 850,-) (Rp. 70,-) (Rp. 50,-) (Rp. 20,-) |
Rp. 1.800,- | Rp. 2.290,- | (Rp. 990,-) | |
Dari contoh tersebut terlihat bahwa adanya kenaikan penjualan sebesar Rp.18.000,- dari anggaran yang telah ditetapkan. Kenaikan penjualan ini dipengaruhi oleh tingkat kinerja dan motivasi yang diterapkan pada departemen pemasaran yaitu upah lembur dan bonus dinaikkan, sehingga terjadi varians yang cukup besar antara anggaran dengan realisasi yang terjadi untuk biaya gaji, bonus, dan lembur tersebut.
Pusat laba merupakan suatu pusat pertanggungjawaban dimana ditingkat output atau tingkat keluaran diukur dengan nilai uang dan ada usaha formal yang dilakukan untuk menghubungkannya dengan biaya atau input, pada sebuah pusat laba, manajer bertanggung jawab dan berwewenang untuk mengambil keputusan yang mempengaruhi baik biaya maupun pedapatan untuk departemen atau divisi yang bersangkutan. Sebagai contoh, sebuah toko serba ada dapat mendesentralisasikan operasinya menurut lini produk. Manajer setiap lini produk akan bertanggung jawab atas harga pokok barang dan keputusan mengenai pendapatan, seperti penentu harga jual. Manajer pusat laba tidak mengambil keputusan sehubungan dengan aktiva tetap yang tersedia untuk pusat laba itu.
Pusat biaya merupakan bagian dari pusat pertanggungjawaban dimana masukan (input) diukur dengan satuan uang tetapi tidak ada usaha formal yang dilakukan menghubungkannya dengan pendapatan (output). Sebagai contoh, seorang manajer dari pabrik manufakturing yang diorganisasikan sebagai pusat biaya dapat memperlakukan tiap-tiap departemen di dalam pabrik sebagai pusat biaya yang terpisah, dengan manajer-manajer departemen melaporkan langsung ke manajer pabrik. Pada umumnya pusat biaya dikelompokkan menjadi dua, yaitu pusat biaya terukur dan pusat biaya tidak terukur.
Pusat investasi merupakan suatu bentuk pusat pertanggungjawaban, dimana yang menjadi pusat perhatian adalah laba dan investasi yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut. Pada sebuah pusat investasi, manajer bertanggung jawab dan berwewenang untuk membuat keputusan yang tidak hanya mempengaruhi biaya dan pendapatan, tetapi juga aktiva tetap yang tersedia untuk pusat itu. Suatu ukuran yang paling luas digunakan untuk penilaian prestasi divisional pusat investasi adalah tingkat pengembalian atas investasi (Rate or ReturnOn Investment – ROI). Sebagai contoh, laba operasi dari divisi A sebesar Rp. 70.000.000,- berdasarkan nilai aktiva yang diinvestasikan sebesar Rp. 350.000.000,- dan penjualan Rp. 560.000.000,- maka tingkat pengembalian atas investasi pasa divisi A adalah:
ROI = Laba Operasi x Penjualan X Penjualan
Penjualan Aktiva yang diinvestasikan
ROI = Rp. 70.000.000,- X Rp. 560.000.000,-
Rp. 560.000.000,- Rp. 350.000.000,-
ROI = 12,5 % x 1,6
ROI = 20 %
PEMBAHASAN I
PENERAPAN AKUNTANSI MANAJEMEN DALAM PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN JANGKA PENDEK
Nilai dari sebuah informasi dalam proses pengambilan keputusan adalah sangat berharga, karena hanya dengan informasi yang baik dan benar seorang manajer dapat mengambil keputusan yang dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan pada masa yang akan datang. Pada umumnya pengambilan keputusan akan lebih baik jika didasarkan atas analisa dan penilaian yang cermat dari pada keputusan yang hanya didasarkan atas instuisi.
Informasi yang digunakan manajemen dalam pengambilan keputusan menurut Abdul Halim dan Bambang Supomo dapat digambarkan sebagai berikut:
Informasi akuntansi biasanya dinyatakan dengan sejumlah uang, misalnya persediaan bahan baku Rp. 50.000,-. Informasi bukan akuntansi dapat berupa umur, pengalaman kerja, jumlah karyawan, penggantian direktur, dan lain-lain. Informasi operasi merupakan sumber informasi akuntansi, yakni sebagai penyedia data-data yang diperlukan dalam penyusutan laporan keuangan dan laporan akuntansi manajemen. Akuntansi keuangan menghasilkan informasi untuk pihak eksterm dalam bentuk laporan keuangan dan akuntansi manajemen memberikan informasi untuk manajemen.
Dalam konteks ini hanya akan dibahas mengenai informasi akuntansi diferensial tentang pengambilan keputusan pemilihan beberapa alternatif, khususnya keputusan jangka pendek. Biasanya proses pengambilan keputusan jangka pendek tidak memerlukan waktu yang lama karena informasi yang tersedia cukup lengkap. Dalam hal ini seorang akuntan manajemen harus mempunyai keahlian dari wawasan yang luas dalam bidang akuntansi manajemen, sehingga informasi yang tersedia di perusahaan dapat dianalisa dengan tepat dan relevan dengan masalah yang dihadapi, dengan tujuan keputusan yang diambil manajer tidak merugikan perusahaan.
1) Keputusan jangka pendek yang sering diambil oleh pimpinan perusahaan adalah:
a) Keputusan apakah membuat sendiri jenis produk dan membeli dari perusahaan lain.
Pimpinan PT. SENTOSA dihadapkan pada persoalan apakah membuat sendiri suku cadang atau membeli dari supplier lain. Kebutuhan suku cadang tersebut berjumlah 100.000, sedangkan laporan produksi yang diperhitungkan untuk menghasilkan kebutuhan suku cadang tersebut adalah sebagai berikut:PT. SENTOSA
Laporan Biaya Produksi
Biaya bahan baku Rp. 5,- Rp. 500.000,-
Biaya upah langsung Rp. 10,- Rp. 1.000.000,-
Biaya overhead pabrik variabel Rp. 3,- Rp. 300.000,-
Biaya overhead pabrik tetap terhindarkan Rp. 4 Rp. 400.000,-
Biaya overhead pabrik tetap
tidak terhindarkan Rp. 5,- Rp. 500.000,-
Total biaya produksi Rp. 27,- Rp. 2.700.000,-
PT. SENTOSA mendapat tawaran dari perusahaan lain untuk membeli suku cadang dengan kualitas yang sama dengan Rp. 25,- per buah. Tindakan yang dilakukan pimpinan PT. SENTOSA adalah menginstruksikan kepada staf akuntan manajemennya untuk mengadakan analisa terhadap tawaran tersebut. Dari analisa yang dilakukan akuntan manajemen ini pimpinan perusahaan dapat mengambil keputusan membeli suku cadang tersebut atau tetap memproduksi sendiri.
Misalnya dalam pengambilan keputusan ini fasilitas-fasilitas untuk memproduksi suku cadang tersebut dianggap tetap menganggur jika alternatif membeli dari luar dipilih. Sehubungan dengan masalah ini, informasi biaya yang perlu dipertimbangkan adalah biaya terhindarkan yang merupakan biaya relevan.
Meskipun secara sepintas lebih menguntungkan bagi PT. SENTOSA untuk membeli suku cadang dari luar, karena harga beli dari perusahaan lain (Rp.25,- per buah) lebih rendah Rp. 2,- per buah bila dibandingkan dengan membuat sendiri (Rp. 27,- per buah), tetapi dasar analisanya tidak sedemikian sederhananya. Sehubungan dengan masalah ini, informasi biaya yang perlu dipertimbangkan adalah biaya terhindarkan. Misalnya dalam pengambilan keputusan ini fasilitas-fasilitas untuk memproduksi suku cadang dari luar dipilih, maka perhitungan biaya relevan menurut Mulyadi dapat disajikan sebagai berikut:
Biaya per buah
Biaya terhindarkan:
Biaya bahan baku Rp. 5,-
Biaya upah langsung Rp. 10,-
Biaya overhead pabrik variabel Rp. 3,-
Biaya overhead pabrik tetap terhindarkan Rp. 4,-
Jumlah biaya terhindarkan Rp. 22,-
Harga beli jika membeli dari luar Rp. 25,-
Kerugian jika membeli dari luar Rp. 3
Dari data tersebut membuktikan bahwa alternatif tetap memproduksi sendiri lebih menguntungkan, karena jika membeli dari luar, biaya yang dikeluarkan adalah Rp. 25,- per buah. Sedangkan penghematan yang diperoleh sebesar Rp. 22,- per buah.
b) Keputusan menjual sekarang atau memproses lebih lanjut suatu produk
Dalam pengambilan keputusan menjual sekarang atau memproses lebih lanjut suatu produk biasanya menggunakan biaya kesempatan. Biaya kesempatan adalah pendapatan atau penghematan biaya yang dikorbankan sebagai akibat dipilihnya alternatif tertentu. Misalnya PT SENTOSA dihadapkan pada persoalan memilih apakah menjual sekarang produk A atau memproses lebih lanjut menjadi produk B. PT. SENTOSA mempunyaI kapasitas produksi 10.000 unit, harga jual produk A Rp. 4.500,- per unit dengan harga pokok Rp. 3.000,- per unit. Jika produk A diproses lebih lanjut menjadi produk B diperlukan biaya tambahan Rp. 1.500,- per unit berupa biaya variabel (upah, bahan pembantu). Harga jual produk B Rp. 7.500,- per unit.
Harga jual produk B (10.000 x Rp. 7.500,-) Rp. 75.000.000,-
Dikurangi
Biaya proses tambahan (10.000 x Rp. 1.500,-) Rp. 15.000.000,-
Keuntungan karena meneruskan proses Rp. 15.000.000,-
Dari hasil perhitungan tersebut, manajer dapat mengambil keputusan lebih baik memproses lebih lanjut menjadi produk B, karena mendatangkan keuntungan tambahan sebesar Rp. 15.000.000,-. Untuk mempermudah manajer dalam mengambil keputusan memilih alternatif menjual sekarang produk A atau memproses lebih lanjut produk B, maka akuntan manajemen menyajikan laporan tentang analisa pengambilan keputusan menurut Mas’ud Machfoedz dalam bentuk sebagai berikut: PT.SENTOSA
Analisa Pengambilan Keputusan
Dijual sebagai produk A Dijual sebagai produk B
Penjualan:
(10.000 x Rp. 7.500,-) - Rp. 75.000.000,-
Harga pokok produk A
(10.000 x Rp. 3.000,-) Rp. 30.000.000,- -
Biaya tambahan karena
harus meneruskan Proses
(10.000 x Rp. 1.500,-) - Rp. 15.000.000,-
Laba Rp. 15.000.000,- Rp. 30.000.000,-
DAFTAR PUSTAKA
Halim, Abdul dan Supomo, Bambang. 1990. Akuntansi Manajemen. Edisi Pertama. Yogyakarta: BPFE.
Homgren, Charles T.1993. Pengantar Akuntansi Manajemen. Edisi keenam. Jakarta: Erlangga.
Machfoedz, Mas’ud. 1990. Akuntansi Manajemen. Edisi keempat. Yogyakarta: BPFE.
Mulyadi. 2001. Akuntansi Manajemen. Edisi ketiga. Cetakan ketiga. Jakarta: Salemba Empat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar