Tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional pengasasnya. Berbeda dengan tasawuf akhlaqi, tasawuf falsafi menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya. Terminologi falsafi tersebut berasal dari bermacam-macam ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya.
Menurut At-Taftazani, ciri umum tasawuf falsafi adalah ajarannya yang samar-samar akibat banyaknya istilah khusus yang hanya dipahami oleh siapa saja yang memahami ajaran tasawuf jenis ini. Tasawuf falsafi tidak dapat dipandang sebagai filsafat karena ajaran dan metodenya didasarkan pada rasa (dzauq), tetapi tidak dapat pula dikategorikan sebagai tasawuf dalam pengertiannya yang murni, karena ajarannya sering diungkapkan dalam bahasa filsafat dan lebih berorientasi pada panteisme.
Tasawuf filsafi mempunyai objek tersendiri yang berbeda dengan tasawuf sunni. Dalam hal ini, Ibnu Khaldun, sebagaimana yang dikutip oleh At-Tafzani, dalam karyanya Al-Muqaddimah menyimpulkan bahwa ada empat objek utama yang menjadi perhatian para sufi filosof sebagai berikut:
1. Latihan rohaniah dengan rasa, intuisi, serta intropeksi diri yang timbul darinya.
2. Iluminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam gaib, seperti sifat-sifat rabbani, ’arsy, kursi, malaikat, wahyu, kenabian, roh, hakikat realitas segala yang wujud, yang gaib maupun yang yang tampak, dan susunan kosmos, terutama tentang penciptanya serta penciptaannya.
3. Peristiwa-peristiwa dalam alam maupun kosmos yang berpengaruh terhadap berbagai bentuk kekeramatan atau keluarbiasaan.
4. Penciptaan ungkapan-ungkapan yang pengertiannya sepintas samar-samar, yang dalam hal ini telah melahirkan reaksi masayarakat berupa mengingkarinya menyetujuinya, ataupun menginterprestasikannya dengan intreprestasi yang berbeda-beda
Tasawuf filosofi mempunyai beberapa karakteristik secara khusus di antaranya:
1. Tasawuf filosofi banyak mengonsepsikan pemahaman ajaran-ajarannya dengan menggabungkan antara pemikiran rasional-filosofis dan perasaan.
2. Seperti halnya tasawuf jenis lain, tasawuf filosofis didasarkan pada latihan-latihan rohaniah, yang dimaksudkan sebagai peningkatan moral, yakni untuk mencapai kebahagiaan.
3. Tasawuf filosofis memandang iluminasi sebagai metode untuk mengetahui berbagai hakikat realitas, yang menurut penganutnya bisa dicapai dengan fana.
4. Para penganut tasawuf filosofis ini selalu menyamarkan ungkapan-ungkapan tentang hakikat realitas-realitas dengan berbagai simbol atau terminologi.
Di antara tokoh-tokoh tasawuf filsafi adalah Ibn Arabi, Al-Jili, Ibn Sab’in, dan Ibn Masarrah.
A. IBN ’ARABI (560-638 H)
1. Biografi Singkat Ibn ’Arabi
Nama lengkap Ibn ’Arabi adalah Muhammad bin ’Ali bin Ahmad bin ’Abdullah Ath-Tha’i Al-Haitami. Ia lahir di Murcia, Andalusia Tenggara, Spanyol, tahun 560 H, dari keluarga berpangkat, hartawan, dan ilmuwan. Tahun 620 H, ia tinggal di Hijaz dan meninggal di sana pada tahun 638 H.
2. Ajaran-ajaran Tasawuf Ibn ’Arabi
a. Wahdat Al Wujuud
Ajaran sental Ibn ’Arabi adalah tentang wahdat al-wujuud (kesatuan wujud). Meskipun semua orang sepakat menggunakan istilah wahdat al-wujuud untuk menyebut ajaran sentral Ibn ’Arabi, mereka berbeda pendapat dalam memformulasikan pengertian wahdat al-wujuud.
Menurut Ibn Taimiyah, wahdat al-wujuud adalah penyamaan Tuhan dengan alam. Menurut penjelasannya, orang-orang yang mempunyai paham wahdat al-wujuud mengatakan bahwa wujud itu sesungguhnya hanya satu dan wajib al-wujuud yang dimiliki oleh Khaliq juga mumkin al-wujuud yang dimiliki oleh makhluk. Selain itu, orang-orang yang mempunyai paham wahdat al-wujuud itu juga mengatakan bahwa wujud alam sama dengan wujud Tuhan, tidak ada perbedaan.
Menurut Ibn ’Arabi, wujud semua yang ada ini hanya satu dan wujud makhluk pada hakikatnya adalah wujud Khaliq pula. Tidak ada perbedaan antara keduanya (Khaliq dan makhluk) dari segi hakikat.
b. Haqiqah Muhammadiyyah
Dari konsep wahdat al-wujuud Ibn ’Arabi, muncul lagi dua konsep yang sekaligus merupakan lanjutan atau cabang dari konsep wahdat al-wujuud, yaitu konsep al-hakiikat al-muhammadiyyah dan konsep wahdat al-adyaan (kesamaan agama).
Selain itu, Ibn ’Arabi menjelaskan bahwa terjadinya alam ini tidak bisa dipisahkan dari ajaran Haqiqah Muhammadiyyah (Nur Muhammad). Menurutnya, tahapan-tahapan kejadian proses penciptaan alam dan hubungannya dengan kedua ajaran itu dapat dijelaskan sebagai berikut.
1) wujud Tuhan sebagai wujud mutlak, yaitu dzat yang mandiri dan tidak berhajat kepada suatu apa pun.
2) Wujud Haqiqah Muhammadiyyah sebagai emanasi (pelimpahan) pertama dari wujud Tuhan dan dari sini muncul segala yang wujud dengan proses tahapan-tahapannya sebagaimana yang dikemukakan di atas.
c. Wahdatul Adyan
Adapun yang berkenaan dengan konsepnya wahdat al-adyaan (kesamaan agama), Ibn ’Arabi memandang bahwa sumber agama adalah satu, yaitu hakikah Muhammadiyyah.
B. AL- JILI (1365-1417 M)
1. Biografi Singkat Al-Jili
Nama lengkapnya adalah ’Abdul Karim bin Ibrahim Al-Jili. Ia lahir pada tahun 1365 M di Jilan (Gilan), sebuah provinsi di sebelah selatan Kaspia dan wafat pada tahun 1417 M. Nama Al-Jili diambil dari tempat kelahirannya di Gilan. Ia adalah seorang sufi yang terkenal dari Baghdad.
2. Ajaran tasawuf Al-Jili
a. Insan Kaami
Ajaran tasawuf Al-Jili yang terpenting adalah paham insaan kaamil (manusia sempurna). Menurut Al-Jili, insaan kaamil adalah nuskhah atau copy Tuhan, seperti disebutkan dalam hadist:
خَلَقَ اللّهُ ادَمَ عَلَى صُوْرَةِ الرَّحْمنِ
Artinya:
”Allah menciptakan Adam dalam bentuk yang Maharahman”.
Hadist lain:
خَلَقَ اللّهُ ادَمَ عَلَى صُوْرَتِهِ
Artinya:
”Allah menciptakan Adam dalam bentuk diri-Nya”.
b. Maqaamaat (al-Martabah)
Sebagai seorang sufi, Al-Jili dengan membawa filsafat insaan kaamil merumuskan beberapa maqaam yang harus dilalui seorang sufi, yang menurut istilahnya ia sebut al-martabah (jenjang atau tingkat). Tingkat-tingkat itu adalah:
1) Islam, yang didasarkan pada lima pokok atau rukun dalam pemahaman kaum sufi tidak hanya dilakukan secara ritual saja, tetapi harus dipahami dan dirasakan lebih dalam.
2) Iman, yakni membenarkan dengan sepenuh keyakinan akan rukun iman, dan melaksanakan dasar-dasar Islam.
3) Ash-Shalah, yakni dengan maqaam ini, seorang sufi mencapai tingkat ibadah yang terus menerus kepada Allah dengan penuh perasaan khauf dan raja’.
4) Ihsan, yakni maqaam ini menunjukkan bahwa seorang sufi telah mencapai tingkat menyaksikan efek (atsar) nama dari sifat Tuhan, sehingga dalam ibadahnya, ia merasa seakan-akan berada di hadapan-Nya.
5) Syahaadah, seorang sufi dalam maqaam ini telah mencapai iraadah yang bercirikan; mahabbah kepada Tuhan tanpa pamrih, mengingat-Nya secara terus-menerus dan meninggalkan hal-hal yang menjadi keinginan pribadi.
6) Shiddiqiyah, istilah ini menggambarkan tingkat pencapaian hakikat yang makrifat yang diperoleh secara bertahap dari ilmu al-yaqin, ’ain al-yakin, sampai haqq al-yakin.
7) Qurbah, maqaam ini merupakan maqaam yang memungkinkan seorang sufi dapat menampakkan diri dalam sifat dan nama yang mendekati sifat dan nama Tuhan.
C. IBN SAB’IN (614-669 H)
1. Biografi Singkat Ibn Sab’in
Nama lengkap Ibn Sab’in adalah ’Abdul Haqq ibn Ibrahim Muhammad ibn Nashr, seorang sufi yang juga filosof dari Andalusia. Di kota Ceuta, Afrika Utara Ibn Sab’in banyak menelaah kitab-kitab tasawuf serta memberikan pengajaran, sehingga banyak kaum awam yang menemuinya. Dia mengenal berbagai aliran filsafat Yunani, dan filsafat-filsafat Hermetitisme, Persia, dan India. Ibn Sab’in mendirikan suatu tarekat yang dikenal dengan tarekat As-Sab’iniyyah.
2. Ajaran Taswuf Ibn Sab’in
a. Kesatuan Mutlak
Ibn Sab’in adalah seorang pengasas sebuah paham dalam kalangan tasawuf filosofis, yang dikenal dengan paham kesatuan mutlak. Gagasan esensial pahamnya sederhana saja, yaitu wujud adalah satu alias Wujud Allah semata. Wujud-wujud lainnya hanyalah wujud yang satu itu sendiri. Jelasnya, wujud-wujud yang lain itu hakikatnya sama sekali tidak lebih dari wujud Yang Satu semata. Dengan demikian, wujud dalam kenyataannya hanya satu persoalan yang tetap.
b. Penolakan terhadap Logika Aristotelian
Paham Ibn Sab’in tentang kesatuan mutlak telah membuatnya menolak logika Aristotelian. Oleh karena itu, dalam karyanya, Budd Al-’Arif, ia berusaha menyusun suatu logika baru yang bercorak iluminatif, sebagai pengganti logika yang berdasarkan pada konsepsi jamak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar